Dia-lah Satu Cahaya

Just another WordPress.com weblog

Pengertian Bahtsul Kutub

Bahtsul kutub terdiri dari بَحْثُ dan اَلْكُتُبْ dua kata yang diidofahkan menjadi satu pengertian. بَحْثُ yang artinya membahas اَلْكُتُب yang artinya kitab-kitab, bila kita akan membahas kitab kitab berarti kita ingin mengetahui isi kitab –kitab yang kita bahas itu, namun apakah yang dimaksud mengetahui isi kitab kitab itu adalah mengetahui materi yang dibahas dalam kitab kitab itu ataukah mengetahui metoda penulisan kitab kitab itu, disini kita arahkan bahwa membahas kitab adalah membahas metoda penulisan atau kita sebut sistimatika penulisan kitab kitab itu dan memahami cara atau jalan pemikirannya pengarang kitab itu.

Mahasiswa kita harus mengetahui isi kitab-kitab, tetapi sangat sedikit yang mungkin akan mampu untuk dibawa mengetahui seluruh apa yang ditulis oleh penulis kitab itu, karena latar belakang basicnya sangat kurang, sedangkan kitab itu membahas pendapat yang oleh penulis sudah ketahui, baik dari menukil dari kitab lain atau yang penulis temukan sesuai dengan ide penulis itu sendiri.

Membahas kitab dapat diartikan membahas cara menulis atau sistimatika yang sudah mereka tulis sesuai selera mereka masing masing, dan dapat diartikan membahas pendapat penulis kitab itu sendiri sesuai dengan judul yang ada dalam kitab tersebut, dan dapat pula diartikan belajar membaca kitab kuning.

Untuk Fakultas Syari’ah IAILM PP Suryalaya ini yang jurusannya muamalah tentunya pembahasan materi dalam kitab itu harus disesuaikan dengan jurusannya yaitu muamalah beserta riwayat hidup para tokohnya Dan para maha siswa sebagai calon pemikir harus mengetahui juga cara berfikir para madhab, walaupun titik beratnya disesuaikan dengan kondisi, baik perpustakaan, maupun kondisi mahasiswa

Penulisan kitab berbeda beda sehingga diakhir masa sekarang ini berkem bang istilah kitab kuning, padahal semenjak ulama menulis kitab tidak ada istilah kitab kuning. Istilah kitab kuning ini muncul di ahir abad – abad ini, kalau ditelusuri asal mula istilah itu memang dapat dibenarkan, yaitu pada mulanya santri-santri di Pesantren kalau membeli kitab lebih suka kitab yang warna kertasnya kuning. Dimasa dulu kalau kitab kertasnya warna kuning kwalitasnya lebih baik dibanding kitab yang kertasnya warna putih.

Ulama salaf yang hidup pada masa sebelum tahun 400 H telah menulis kitab pada masa itu, demikian pula ulama yang setelahnya, dan cara penulisan mereka dalam bahasa Arab selalu tidak pakai tanda koma atau titik, batas yang disediakan hanyalah apabila memulai dengan judul KITAB, sambungannya berjudul BAB, disusul dengan judul FASAL. Tetapi walau demikian para santrinya mengerti karena mereka memahami dan menguasai ilmu alatnya seperti nahwu shorof balagoh dan lain lainnya.

Kitab menurut bahasa memiliki arti buku baik besar /tebal atau kecil /tipis, tetapi dalam istilah di Pesantren kitab dengan buku adalah berbeda. Kitab dalam istilah sehari-hari adalah sebuah buku yang berisikan pelajaran yang bertuliskan huruf Arab, dan biasa dipelajari di pesantren-pesantren atau di lembaga-lembaga pendidikan agama Islam, sedangkan buku biasa bertuliskan bukan huruf Arab walaupun dipelajari di pesantren atau di lembaga pendidikan Islam. Istilah ini ternyata bisa berkembang yaitu walaupun bertuliskan huruf Arab kadang kadang disebut buku juga tetapi yang biasa disebut kitab tidak berlaku untuk disebut buku.

Dalam pencetakan kitab-kitab zaman dulu yang lazimnya disebut kitab klasik atau kitab kuning memiliki sistimatika penulisan tersendiri.Sistimatika tersebut adalah sebagai berikut: Judul besarnya Kitab, anak judulnya Bab, anak bab fasal, dari fasal ini memiliki anak anak lagi seperti Far’un, Faidatun, Tanbihun dll. Dalam satu buku berisikan beberapa kitab, misalnya Kitabut Toharoh, Kitabun Nikah, Kitabul Jinayah Ada yang satu kitab berisikan memang satu kitab misal Kitabul Faroid, yang lebih. Format penulisan seperti itu biasanya ada yang memuat matan dan syarah (penjelasan ) ada yang memuat syarah dan hasyiyah (perluasan pembahasan) ada yang memuat hamisy, ada juga yang memuat ta’liqot.

Pada umumnya satu buah kitab (buku) muatannya satu fan ilmu(satu disiplin ilmu), misal tentang fikih, tentang aqidah, tentang tasauf jadi dari kitab-kitab yang ada dalam buku tersebut semuanya tentang satu fan, demikian juga yang membahas shorof dan nahu, bagian yang di pinggirnya atau yang dibawahnya juga tentang shorof dan nahu, dan begitulah seterusnya.

Isi atau kandungan mereka dalam menyusun materi sangat beragam sesuai fan dan selera masing masing serta keahliannya masing masing. Misal mengenai pendapat pendapat ulama yang berbeda beda, dengan istilah muqoronatul madzahib, atau mengenai pilihan kesenangan madhabnya sehingga berupa timbangan atau mizan dari macam macam pendapat yang mereka tahu serta alasan alasannya masing masing. Ada juga yang mengumpulkan atau menghimpun masalah masalah yang untuk ditarjih.

Dalam mata kuliah bahsul kutub disini tidak diarahkan untuk muqoronah atau tarjih melainkan untuk mengetahui metoda penulisan yang mereka susun dimasa lampau yang di istilahkan dengan salaf dan masa sekarang yang diistilahkan holaf. Batasan salaf dengan kholaf sesuai penjelasan bapak-bapak ahli sejarah adalah berisikan sejak sahabat sampai tahun 300 Hijriyah dan setelah itu sampai tahun 400 hijriyah disebut kholaf, masa selanjutnya disebut masa taqlid, Walau demikian boleh saja ulama yang menulisnya dimasa kholaf tetapi metoda penulisannya menggunakan metoda salaf.

Pencetus istilah salaf dan kholaf Ibnu Taimiyah, dan ulama yang olehnya digolongkan salaf adalah para sahabat Nabi para tabi’in dan tabi’it tabi’in sampi tahun 300 H, mereka adalah a.l. Abu Bakar Siddiq, Umar bin Hottob, Usman bin ‘Afan, ‘Ali bin Abi Talib, dan sahabat Nabi yang lainnya; yang kedua masa tabi’it tabi’in seperti Ibnu Musyayyab, Hasan Al Bishri, Lais, Abu Hanifah (imam Hanafi), imam Malik, imam Syafi’i, imam Hambali, Buhori, Muslim dan pengarang Kutubus Sittah.

Orang orang yang dianggap tokoh ajaran gerakan salafiyah atau yang disemangati dengan ajaran salaf sesudah Ibnu Taimiyah adalah Ibnu Qoyyim al Jauziyah, Muhammad bin Abdul Wahab. Semangat ini adalah untuk kembali pada Al Qur’an dan Sunnah serta berijtihad, yang dilanjutkan oleh Jalaluddin al Afgani, Syekh Muhammad Abduh, dan Syeh Muhammad Rasyid Rido.

2 Komentar»

  juan wrote @

nyesel dri ga bner2 blajar baca kitab dulu,
dikampuz jd mata kuliah
waduhhhhhh…….. babak belur uing teu bisa.

  pringputih wrote @

oh…gitu toh…
antum kan bisa baca kitab kn…. ana mh boro-boro baru ngelihat kitab aja udah liyeur.. hee.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: