Dia-lah Satu Cahaya

Just another WordPress.com weblog

ISTIQAMAH DALAM IBADAH

Salah satu fitrah manusia adalah memliki sifat gelisah dan banyak keinginan (kemauan ) kedua fitraah tersebut tidak perlu dihilangkan, tetapi kegelisahan itu kita kendalikan sehingga menjadi wajar. Adapun keinginan –keinginan yang positif harus kita upayakan untuk meraihnya. Agar berhasil meraih sesuatu maka maka kita harus istiqamah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :

“ jikalau mereka tetap (istiqamah) dalam jalan (tarekat) itu, maka benar-benar kami akan memberi minum mereka air yang segar ( rizki yang banyak )”.

Maksud ayat diatas adalah jika kita sedang melakukan usaha, baik itu usaha masalah duniawi maupun itu masalah bersifat ukhrowi, maka kita harus melaksanakannya dengan langgeng atau istiqamah . Dengan demikian Insya Allah unsaha kita akan berhasil.
Dalam beribadah kepada Allah pun kita harus istiqamah, termasuk dalam mengamalkan tareqat sufiah. Selain harus istiqamah dalam mengamalkannya, kita juga harus menggunkan ilmunya, dan mematuhi aturan –aturan dan tata cara mengamalkan tarekat.bahkan kita harus mengadajkan evaluasi, untuk menggukur keberhasilan yang kita capai selama ini Hal diatas sesuai dngan Haadis Nabi yang artinya “sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang diamalkan dan harus ikhlas”.Ketiga faktor inni ;ilmu, amal dan ikhlas, harus ada dalam ibadah.

Kita mengambil contoh tentanmg shalat. Untuk mengamalkannya kita harus tahu ilmunya atau peraturan- peraturannya dan tata caranya. Setelah sekian lamanya kita melaksanakannya ,lalu kita adakan evaluasi terhadap shalat kita. Allah berfirman dalam AL Quran Surat AL Ankabut ayat 45: “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan jahat (keji atau sifst-sifat maksiat) dan sifat sifat yang munkar”.Lalu bagaimanakah ahalat kita ? apakah setelah shalat kita masih suka menghimna oranglain, membicarakan orang lain dan lain-lain. Termasuk nilai apakah ahalat kita ? Sebagaimana yamh kita ketauhi bahwa shalat itu ada tiga tingkatan yaitu :

a. Sahalat secara Awam
b. Shalat secara Khawas
c. Shalat secara Khawasil-Khawas

Hal ini sebagaimana tingkatan dzikir yaitu awam , khawas dan khwasil khawas.
Yang dimaksud awam adalah secara bodoh, apa adanya tanpa pemikiran atau seenaknya saja. Sedangkan yang dimaksud dengan khawas adalah telah mulai merasakan dan ikut memikirkan bagimana ibadah serta bagaimana hasil dari ibadah itu. Dan yang dimaksud khawasil khawas adalah orang yang sudah ahli dalam menanggulangi keadaan –keadaan dalam ibadah., baik ibadah yang berhubungan dengan manusia (Habblumminannas)., maupun yanag berhungan Allah AWT (Hablumminalloh).
Jika dalam ibadah kita ada merasakan ada sesuatu yang tidak beres (tidak benar), maka kita jangan menyalahkan kepada orang lain, akan tetapi salahkan diri kita sendiri. Hal ini sebagaimana dalam perkataan Tanbih “…segala penderitaan pribadi itu adalah akibat dari amal perbuatan diri sendiri “. Selanjutnya kita harus ingat akan Fiman Allah dalam AL Quran surak ar ro’du ayat 11 yang artinya: Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehinggaa mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.Oleh karena itulah, jika ada kesalahan kita haarus mengubahnya sendiri.

Adapun jika kita ada kesalahan dalam hati atau tidak ketentraman , maka kita harus berzikir. Hal ini sesuai denngan Hadis Nabi , yang artinya “sesungguhnya segala sesuatu itu ada pencuci ( pembersih)nya, sedangkan pencuci atau pembersih hati adalah dzikir (ingat hati) kepada Allah”.Firman Allah dalam AL Qur’an surah ar ra’du ayat 28 “(yaitu ) orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, perhatikanlah ! hanya dengan mengingatAllah hati itu akan menjaditentram”

Hal ini berarti dengan berdzikir hati kita bisa mengurangi kekacauan jiwa atau kegoncangan fikiran.

Dikir itu sendiri ada bebarapa macam :

a. Dzikir yang d ucapkan dengan lisan
b. Dzikir yang diingatkan dalam hati
c. Dzikir yang dirasakan dalam hati
d. Dzikir yang tidak dirasakan lagi

Apabila dalam berdzikir kita masih mengalami kesulitan-kesuklitan ,maka tambahlah dengan mengamalkan riyadlah-riyadlah, misalnya :tidak tidur malam jumat(melek), selalu bangun malam dll. Selain itu dzkir harus diperbanyak dan tawajuhnya harus lebih lama .(K.H. Noor Anom Mubarrok)

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: