Dia-lah Satu Cahaya

Just another WordPress.com weblog

Diantara Kebiasaannya adalah Memulyakan Ulama

Kebiasaan beliau adalah memulyakan ulama karena mereka adalah yang mempunyai ilmu dan Allah memulyakan kepada mereka karena ilmunya, maka mereka jadi ahli ilmu walaupun bukan ahli amal, maka mereka tetap ahli ilmu. Syekh mursyid memulyakan mereka dengan derma dan mengeluarkan uang dll, hal itu sebagai tanda memulyakan dan mengagungkan mereka walau keluarganya orang bertolak belakang dan orang yang ingkar pada tarekatnya. Hal itu sebagai tanda kasih sayang, hormat dan rohmat kepada mereka seperti dalam wasiat Syaikh al Mukarrom, karena mereka itu orang yang tidak tahu. Sebagaimana firman Allah SWT :

واذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما. (الفرقان : 63)

“ dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata( yang mengandung ) keselamatan”. (QS al-Furqan : 63)

Rasulullah bersabda:

اكرموا العلماء فانهم عند الله كراماء مكرومون مختارون عند الملائكة.

”Mulyakanlah olehmu para ulama, karena mereka menurut Allah orang-orang yang mulya dan dimulyakan dan termasuk orang-orang terpilih menurut malaikat.”

Dari Abi Hurairah berkata aku mendengar Rasulullah, apabila orang pintar berbicara ditempatnya dengan ilmu dan tidak senda gurau serta main-main, maka Allah ciptakan dari setiap kalimat yang muncul dari mulutnya satu malaikat yang beristighfar kepadanya, dan kepada yang mendengarkannya sampai hari qiyamah, apabila mereka bubar, maka Allah memberi ampunan kepada mereka, kemudian Nabi SAW bersabda :

هم القوم لا يشقى جليسهم .

“Mereka itu adalah kaum yang tidak mencelkakan teman duduknya”.

Pahamilah pada kalimat hadits ini, maka tidak memasukkan kepadanya orang yang senda gurau dan omong kosong yaitu hatinya selalu dzikir kepada Allah karena Rasulullah bersabda :

كل شيئ ليس من ذكر الله لهو ولعب.( رواه النسائ عن جابر بن عبد الله و جابر بن عامر)

”Segala sesuatu yang bukan dari dzikir kepada Allah adalah omong kosong dan orang yang main-main. (HR Nasa’I dari jabir bin Abdullah dan Jabir bin Amir) ini dalan kitab Fadhil Qadir.

Sayyid Syekh Ahmad Shahibul Wafa tajul ‘Arifin r.a. berkata : ilmumu memanggilmu tetapi kau tidak mendengarnya, dan dalam firman Allah :

ولا تطع من أغفلنا قلبه عن ذكرنا واتبع هواه وكان أمره فرطا . (الكهف : 28)

” Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Kami lalaikan dari mengingati Kami. Serta mengikuti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (QS Al-Kahfi : 28)

Maka apabila ada orang yang berilmu, berdzikir, maka ucapannya dengan ilmu, dan adapun dzikir dengan ilmu dan karenanya dzikir menjadikan oarng mendengarkannya dan orang menjadi tahu, dan apabila berdzikir dengan tidak memakai ilmu, maka sebaliknya yakni orang tidak mendengarkannya dan orang tidak menjadi tahu.
Maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai dengan dirinya sendiri dan keduanya dengan malaikat dan ketiganya dengan orang yang berilmu. Sebagaimana firman Allah :

شهد الله اته لااله الا هو والملائكة وأولو العلم قائما با القسط . (العمران : 18)

“ Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan.Para malaikat dan orang-orang yang berilmu( juga menyatakan yang demikian itu)”. (QS. Al-Imran : 18)

Yakni yang punya ilmu dan berdzikir, karena orang berilmu tetapi lupa dzikir kepada Allah, dalam ucapannya atau dalam khutbahnya Allah melarang kepada kami untuk mengikutinya sesuai firman Allah SWT :

ولا تطع من اغفلنا قلبه عن ذكرنا.(الكهف : 18)

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang lupa hatinya dari dzikir kepada Kami” .(Q.S. Al Kahfi : 18)

Karena ucapan tanpa dzikir kepada Allah itu terlarang menurut syara’. Rasulullah bersabda :

ان عيس ابن مريم كان يقول : لا تكثروا الكلام بغير ذكر الله فتقسو قلوبكم فان القلب القاسي بعيد من الله.

“Sesungguhnya Isa Ibn Maryam berkata “Janganlah kamu sekalian banyak bicara dengan tidak berdzikir kepada Allah, hal itu menjadikan keras hati mereka, maka apabila hatinya keras tentu jauh dari Allah. “ (al muwatha jilid 3 h :50)

Sabda Nabi SAW:

وفضل العالم على العابد كفضلى على امتى . (رواه حارث بن ابي امامة عن ابي سعيد الخضري)

“Adapun keutamaan orang yang berilmu bagi ahli ibadah seperti keutamaanku atas umatku. (HR. harits bin Abi Umamah dari Abi sa’id al Khudhari).

Maksud hadits ini (berilmu, beramal, berdzikir) yaitu keutamaan orang yang berilmu beramal berdzikir terhadap ahli ibadah yang bodoh dan lupa. Nabi bersabda kepada Ibn Mas’ud r.a namanya Abdullah :

يابن مسعود جلوسك ساعة فى مجلس العلم اى فى حلقة العالم لا تمس قلما ولا تكتب حرفا خيرلك من عتق الف رقبة, ونظرك الى وجه العالم بنظر المحبة خير لك من الف فرس تصدقت بها فى سبيل الله , وسلامك على العالم خير لك من عبادة الف سنة.

“Ya Ibn Mas’ud ! kau duduk sebentar di masjid ta’lim yaitu perkumpulan orang yang berilmu, kau tidak menyentuh pulpen dan tidak menulis satu huruf pun itu lebih baik dari memerdekakan hamba sahaya seribu orang,dan lihatlah olehmu wajah orang yang berilmu dengan penglihatan yang penuh rasa cinta,itu lebih baik darimu dari seribu kuda yang kau sedekahkan di jalan Allah dan kau memberi salam atas seorang yang berilmu itu lebih baik dari ibadah seribu tahun”

Ini dikhususkan bagi ‘alim billah dan ‘alim bi amrillah saja karena jahil billah walaupun orang termasuk ‘alim billah tidak lepas dari cacat/noda, atau sakit hatinya seperti ujub, riya, namimah, takabur, sum’ah, permusuhan, marah, serakah, toma, kikir, penakut, malas, sedih, panjang angan-angan, lupa kepada Allah, menggap enteng pada shalat dan perbuatan nganggur, omong kosong, berpaling, ingkar kepada para wali Allah dan banyak makan dan tidur, keras hati dan lain-lain. semua ini termasuk sifat tercela, yang menyebabkan jauh dari cinta dan kesaksian Allah, dan tidak kosong dari kotoran, dan menyebabkan jauh hati dengan lupa kepada Allah, karena lupa kepada Allah lebih berat daripada masuk neraka, demikian ini dikatakan oleh Syekh Junaedi al Baghdadi, begitu juga dari bala’I yang Allah telah menguji kepada hambanya.
Syekh Ahmad Abi al Hawari r.a. dalam kitab Risalah Qusyairiyah berkata : Allah menguji kepada hambanya dengan sesuatu yang lebih berat dari lupa dan keras hati, karena hati orang yang berilmu yang lupa dari dzikir kepada Allah tidak mungkin bisa menerangi orang yang melihat wajahnya dan orang yang sampai kepada Allah tidak akan sampai kecuali berbarengan dengan orang yang sudah sampai. Orang tidak akan berhasil kecuali berbarengan dengan orang yang sudah berhasil, sebagaimana firman Allah :

يا ايها الذين امنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين . (التوبة : 119)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At Taubah : 119)

Yang dimaksud dengan lafadz “Ashshadikuun” adalah orang yang datang kepadaku dengan benar dan membenarkan , mereka adalah ortang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah :

والذي جاء با الصدق وصدق به أولئك هم المتقون. (الزمر : 33)

“Dan orang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”.( QS Az-Zumar : 33).

Adapun yang dimaksud dengan “Tashdiq” adalah menemukan satu nasab, seperti dalam kitab Sulam Munawaraq :

ادراك مفرد تصورا علم # ودرك نسبة بتصديق وسم.

“Menemukan kalimat mufrad adalah dinamai “tashdir”
dan menemukan satu nasab diberinama “tashdiq”

Seperti definisi iman dalam Hadits sebagai berikut :

ان الأيمان اقرارا با للسان وتصديق با القلب وعمل با الأركان. (رواه شيرازي عن عائشة)

”Iman adalah mengucapkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan rukun” (HR. Syairazi dari ‘Aisyah)

Tidak cukup dengan mengucapkan dengan lisan saja, dengan tidak membenarkan dalam hati, seperti orang munafik mengucapkan dengan lisan tidak didalam hati, maka dari itu Allah mencaci seperti dalam firman Allah :

ومن الناس من يقول امنا با الله وبا اليوم الأخر وما هم بمؤمنين. (البقرة : 8)

“ Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”,padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang0orang yang beriman.” (QS Al-Baqarah:8)

dan apabila ada orang mengucapkan dengan lisannya saja, menurut Allah dia dikatakan muslim saja dan tidak termasuk orang mukmin, sebagaimana dalam firman Allah :

قالت الأعراب امنا قل لم نؤمنوا ولكن قولوا أسلمنا ولما يدخل الأيمان فى قلوبكم.

”Kami telah beriman”. Katakanlah ( Kepada mereka ): “ Kamu b:“ Orang-orang arab Badui itu elum beriman tetapi katakanlah “ Kami telah tunduk”, Karena iman itu belum masuk kehatimu”. (QS. Al-Hujurat : 14)
(Terjemah Sunan Mardliyah karangan KH M Abdul Gaos Saepulloh Maslul dan Terjemah KH. Ahdi Noordin/Suryalaya )

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: