Dia-lah Satu Cahaya

Just another WordPress.com weblog

Memberi dan Menerima

zakatSebuah tradisi mudik kiranya tak akan hilang dalam masyrakat kita ketika beberapa hari menjelang perayaan idhul fitri. Dua minggu yang lalu saya pulang ke kampong tempat kelahiranku, tepatnya dua hari sebelum lebaran.Walupun saya sendiri tak begitu memahami apa arti mudik sesungguhnya, mungkinkah hanya untuk bersilaturhmi ataukah ada hal-hal ynag lain . meskipun Dalam pratiknya mudik hanya menjadi justifikasi sesorang untuk bersilaturahmi, dengan tidak kita sadari disana ada ajanga untuk pamer, gibah, dan hal-hal yang harusnya tidak dilakukan.
Seperti kewajiban mengirim parcel untuk sanak saudara ketika lebaran yang padahal nilai lebaran bukanlah di lihat dari banyak atau tidaknya parsel yang diberi, namuan karna masyarakat kita menganggpanya sebagi tradisi hal-hal semacam itu pun tak bisa dihilangkan. Nilai parcel bukalanlah sebab silaturahmi itu terputus. Ada bebrapa orang yang pernah saya temui dan ditanya kenapa mereka tidak Mudik? alas an mereka yaitu malu karna tidak ada Uang untuk memberi oleh-oleh untuk sanak saudara. Itulah contoh kecil dimana Mudik yang harusnya identik dengan ajang silaturahmi menjadi tabu karna melihat nilai barang. Pada masyrakat kita dewasa ini sering sekali mengartikan sebuah hal hanya dilihat dari kulit luarnya saja, padahal kita harus tau eksistensi sesuatu.
Tradisi malu yang di besarkan di negeri ini yaitu malu terhadap apa-apa yang menyebabkan kita merasa dipermalukan, jelasnya malu terhadap kekurangan materi. Padahal menurut saya nilai silaturahmi tidak akan hilang. Walupun ia hanya sekedar bersalaman dan bermaafan saja tanpa harus memeberikan bingkisan-bingkisan. Mungkin ada sebuah hal yang lebih tepat untuk digambarkan untuk hal ini yaitu dikala kita memberi berharap untuk menerima, sebuah pengharapan yang melekat dalam diri sesorang yang terlalu akan menyebabakan dampak psikologis yang buruk. Dan juga dampak burukpun terjadi pada si pemberi ketika dia hanya mampu memberi banyak sesuatu yang padahal ia tak mampu mengelurkan . Memberi merupakan sebuah keterbatasan sesorang, seberapa besar pun bentuk dan nilainya, dan menerima adalah sebuah hal yang paling besar tanpa melihat nilai dan kecilya pula. Nilai gengsipun menjadi prioritas ketika memberi, kadang rasa gengsi muncul ketika ingin memberi sedikit pada seseorang tanpa melihat kemampuan kita sendiri. Sehingga terbitlah sebuah hal yang berlebihan untuk memberi.
Dari itu nilai memberi bukan di lihat dari besar atau banyaknya yang diberi namaun kepada keikhlasan atas pekerjaan hati dan untuk kaitanya denagan feat back adalah hasil dari keikhlasanya atas jalan atas kasihsayang dari dirinya kepada seseorang hingga cahaya hatinya memancar kepada orang lain maka terbentuk pula rasa kasih saying juga dari orang lain, dan bagi si penerima sifat syukurlah yang harus di pelihara, sehingga diapun melakukan syukur baik dengan ucapan ataupun perbuatan, seperti Zakat, menolong orang ataupun bentuk syukur lainya yang mampu ia lakukan, dan inilah orang-orang yang menerima pancaran hati dari orang-orang yang iklhas, hingga terbentuk pula rasa kasih saying terhadap sesama, tanpa meninggalkan unsure social.

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: