Dia-lah Satu Cahaya

Just another WordPress.com weblog

4. Diantara Kebiasannya adalah Memulyakan Ilmu dan Ahli Ilmu

Bagaimana Syeikh Mursyid kita mengagungkan ilmu dan mengajarkan ilmu, beliau adalah satu-satunya manusia dimasa dan ditahunnya sebagai orang diatas orang yang berilmu, diatas ulama dan diatas orang yang paling berilmu .

Allah tidak menciptakan dua matahari didunia, begitu juga menciptakan mujaddid yang memujaddidkan iman umat dizamnnya, tidak ada yang kedua untuk beliau yang serupa didalam ilmu dan amalannya. (Kitab As Shilah baina al Tashawuf wa al Tasyi’ Bab 3 h : 466 ) karena guru mengajarkan ilmunya kepada para pelajar yang tidak tahu sesuatu dari ilmu, kecuali sesuatu diajarkan oleh Allah kepadanya, dan Alah telah menjelaskan dalam Al-Qur’an :

Baca entri selengkapnya »

Peringatan Bagi Orang beriman dan Berakal

“Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu.”(At-Thalaq-10)

Allah memperingati orang-orang yang beriman yang mempunyai akal tapi tidak tunduk kepada hukum-hukum Allah, Pengunaan akal tanpa ketundukan yang penuh dan iman yang kuat akan mengakibatkan kerusakan di bumi. Logika dan Nash dapat menjadi satu keserasian, hal itu bisa terjadi apabila pengunakaan akal di barengi dengan ketakwaan dan keimanan yang penuh kepada Allah dan tunduk terhadap hukum-hukumnya. Akal sering kali berbenturan dengan Wahyu, ia sering menegeluarkan bantahan-bantahan terhadap apa yang di katakana oleh Allah, seperti yang terjadi pada iblis ketika itu
Baca entri selengkapnya »

DUA SAYAP YANG TERTINGGAL

(hendri list)

Langit masih berselimut mendung yang hitam, namun hujan belum juga datang, hanya butiran-butiran kecil air yang jatuh di permadani alam dan gemuruh yang berderi di langit biru,

Di sampingku duduk seorang sahabat yang papa yang terjatuh dan patah serta tak tertahta, 1000 waktu ia coba untuk mengayun jejak langkahnya untuk menggapai cinta seorang gadis yang ia kasihi dan cintai, sejuta harapan terukir dalam pusara hatinya Baca entri selengkapnya »

PERISAI HIDUP

PERISAI HIDUP

(Chendri list)

Bagiku menulis ini lebih dari satu keadaan yang tak terbatas, ini adalah peristiwa yang terhalang oleh persimpangan. Aku adalah bentuk yang hampir menyerupai kamu, aku adalah pengetahuan yang terhalang oleh keangkuhan, aku adalah sisi lain dari dirinya. Dalam satu masa kau ketahui aku namun dalam keadaan lain hanya aku yang mengetahui dirimu.

Suatu malam malaikat kecil mendatanggiku, ia turun bari langit dengan menggunakan sayap yang begitu lebar dan berwarna putih, sayapnya tak seperti sayap yang pernah kita lihat. Sang malikat menghampiriku, di genggaman tanganya ada mambawa lentera dan satu buku kecil, ia mulai melangkah datangi aku dengan raut wajah yang begitu menawan, di belakang pundaknya terlihat cahaya terang mengikutinya, kini ia di depanku dan berkata,”Cinta tak akan mengambil apa-apa dari engkau dia juga tak memberi apa-apa dari engkau karna cinta hanya untuk cinta”.sekejap ia menghilang dari hadapanku, cepat sekali “labih cepat dari kilatan cahaya”. Tuhan menciptakan aku dan ia begitu berbeda, aku dapat melihatmu untuk saat ini namun ia tak begitu. Tuhan kini menyuruh hatiku untuk berlabuh di demaga hatinya, menyusuri jalan pantai untuk sampai kerumahmu, tapi aku baru tersadar betapa bodohnya diri ini , jalanpun aku tak tau mana mungkin aku dapat mengetuk pintu hatimu dan memberi salam sayang padamu. Kini aku masih di tepi pantai duduk memandang jagad raya yang begitu rupawan, kulihat angin yang elok bermain dengan ombak berlarilarian menuju kerinduanya, kerinduan dengan pantai asmara, namun tatkala sang ombak telah terbimbing oleh angin dan sampai ke bibir pantai lalu mendekapnya seketika itu pula ia lekas pergi kembali bergerumun menuju samudra luas.

Aku tak bisa berhadapan denganya, karna tubuhku akan menjadi kaku dan bergetar saat langsung melihatnya, kadang aku hanya melihat dari balik tirai yang ia adakan, kadang pula aku melihatnya dari kerudung putih ala mini. Satu waktu aku menghapus gambarnya yang aku peroleh dari kawanku, dengan pena hitam aku hitamkan gambarmu dan dengan bara api aku hanguskan sampai melebur manjadi abu, Namun apa yang ku dapat? Alam fikiranku slalu saja menghimpun wajahnya kembali dan menyuguhkannya lagi di benaku lebih cantik, rupawan dan sempurna. Alam kini menbuat satu kidung untukku, simfoni tentang aku, alam membuka kidung itu dan mendengarkanya padakau hanya dua waktu, saat di tepi pantai ketika fajar menyingsing dan kenbali pulang.

Kalau waktu bolehkan aku untuk berdekatan dengannya, akan ku gandeng lengannya dan berjalan telanjang kaki menuju cahaya itu, sambil ku lantunkan do’a

“Ya tuhan telah kau dekatkan aku padanya, aku kini tlah di hibur dengan cahaya matanya, seperti kau hiasi langit pada malam itu”. Kini aku hanya akan menunggu satu keajaiban yang tuhan beri kepadaku lalu memberi pengetahuaan kepadanya dengan menuntun hatinya untuk ketahuai aku.

Saat malam sosok samarnya slalu di sini berbaring, tersenyum dan berdendang di sampingku,lalu aku juga slalu menyanyikan lullabi untuknya untuk dirinya.

“Rebahkan tubuhmu di permadani ini , sampai esok tiba hingga simfoni mimipi menghampiriku, usah kau takut pada langit yang gelap karna aku akan salu menjaga dirimu. Sejenak ku beranjak pergi untuk redupkan lentera yang ada di bilik kamarku dan akan aku tutup tirai itu agar tubuhmu tak terjamah oleh angin malam, kini aku ada di sampingmu kembali, tidurlah di dadaku dan cobalah untuk memejamkan mata sedalm samudra cinta. Moga kini kau dapat tertidur lelep dan bermimipilah di taman yang indah wahai kekasih yang belum termilik”

MUKADIMAH

MUKADIMAH

(hendri list)

Ada masanya manusia tak mau berkata, ada pula masanya manusia tertawa terbahak-bahak, hingga ia mengeluarkan percikan air mata. Senyum seringkali menjadi obat penenang hati, kadang pula menjadi tempat bersembunyi rasa kesal yang datang.

Ada masanya manusia berhadapan dengan hiruk pikuk dunia fana, ada masanya manusia itu beranjak pergi dari situ, malam berdendang dengan bahasanya, kelam terpaut sepi hitam namun bercahaya, tuhan menggengam keadaan itu, ia memutar balikan keadaaan dalam kehendaknya.

Wanita dan lelaki menautkan hati di rahim bumi yang belum mereka ketahui, hingga waktu enggan berkata-kata, ia hanya berjalan dalam tuntunan rasa. Wanita dan lelaki berjalan menyusuri kebun anggur sambil bercumbu merayu, indah, mereka terbuai dalam samudra yang fana, dalam hati manusia telah di adakan rasa yang begitu luar biasa, cinta, benci, senang, sedih dan ribuan rasa yang di rasakan manusia. Selendang sutra tlah menutupi hati para pecinta, bercinta dalam ruang mereka, bukan kata lagi yang mereka utarakan tapi perasaan yang mereka mainkan, waktu jadi saksi saat itu.

Alam ini tlah menghamparkan ribuan keadaan. Ada tambatan hati yang ingin di mengerti oleh sang penambat, namun sang penambat sukar untuk mengerti apa yang di ingini sang tambatan. Di selang waktu tambatan hati menari dan bermain-main dalam ruang yang sempit namun tak terbatas, kadang wajahnya menumbuhkan esensi yang indah, ucapanya menuntun segala peraduan menjadi keindahan. Wanita ingin di mengerti, sedang lelaki?.

Diam bukan hayalan, perkataan bukan hanya ucapan, ada makna di balik itu semua, hati sang lelaki saat ini masih mencari penuntun hidup, ia tak malu belajar pada wanita, karna ia juga pernah belajar pada orang yang bodoh. Ada sang tambatan hati yang ia banggakan untuk itu, namun sang tambatan hati tlah mabuk dan tenggelam di dunianya, sang lelaki kadang kala diam kadang pula berkata pada sang tambatan “padamkan api itu sebelum api itu membakar seluruh kapas ini”.

Lihat matahari itu, kini ia tlah memucuk sebentar lagi ia akan pulang kebelahan jagad raya yang lainya.

]

“Wahai Tuhan tegakkanlah tubuhku dan adakanlah sayap untukku agar aku dapat mengepakanya dan terbang jauh menjemputnya di sana, akan ku papah dirinya di bahuku lalu terbang tinggi ke angkasa, kan ku bimbing ia untuk memelukku erat-erat agar tak terjatuh dan jauh.

]

Bulan kini meredup menutupi dirinya dengan awan hitam saat melihat itu, keadaan langit menjadi gelap, namun aku dapat jelas melihat raut muka sang kekasih lewat cahanya matanya”.

]

Wahai Tuhan tunjukan jalan agar aku dapat memasuki ruang hatinya, agar aku dapat mengetahui apa yang ia rasakan saat ini dan kelak nanti dan agar aku mengetahiu kebenaran tentang hal hang masih aku pertanyakan.

]

Sepenggalan kata benyak ku alunkan

Lewat perantara mulutku dan tulisanku

Ada kesadaran yang terbatas di situ

Aku bukan Qays yang mendamba laila dengan seperti itu

karna aku belum mampu..

]

Bukan penulis yang bodoh

belajar menilik dirinya lewat perantara sang kekasihnya.

]

Beberapa perempuan menyebutku si angkuh

itu bukan jubah yang kusuka wahai kekasih

jika angkuh itu tak baik di mata mu tentu akan lebih tidak baik di mata saudaraku

katakan tak usah malu, apa yang sebaiknya ku lakukan?.

]

Ada keadaan yang masih kunanti, keajaiban tuhan yang ku tunggu. Kuringankan langkah kakiku saat berdekatan dengan sang tambatan hati, ku pelankan ucapanku saat itu lirih semakin lirih dan tak lama kemudian hilang terbekap dalam ruang itu. Diam bukan berarti tak berkata, bersuara bukan berarti tak memuja.

]

Kalbuku tlah ku suguhkan agar menjadi penawar hatinya

cinta masuk kehati ini tanpa kami undang

ia masuk seperti penyamun yang mahir

tak tampak namun terasa.

]

Di raut wajahmu ada hal yang kau sembunyikan hingga senyum itu enggan kau tunjukan. Cinta berkata padaku lewat perantara matamu Ia bagai ilham langit yang menerobos dan bersemayam di hatiku, Ia duduk dan menunggu hingga aku mengerti apa yang ia utarakan, namun bukan aku menjadi mengerti malah alam fikiranku samakin tak mengerti.

Sore itu sang tambatan hati mengeluhkan rasa sakit yang ia derita, jika saja aku seorang tabib tentu aku akan obati sang tambatan hati itu dengan penawarnya.

]

Mukadimah hati dalam kasidah cinta membuat manusia menari dan bernyayi dalam taman sang nabi, mabuk karna anggur yang tlah tertuangkan di cawan yang di sajikan para sang pecinta, tertidur di permadani yang terhampar luas di bawah singgasananya. Cinta berawal di alam lahut cinta barakhir pula di alam lahut.

I. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang Masalah

Manusia dikenal sebagai makhluq berfikir. Dan hal inilah yang menjadikan manusia istimewa dibandingkan makhluq lainnya. Kemampuan berpikir atau daya nalar manusialah yang menyebabkannya mampu mengembangkan pengetahuan. Dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, yang indah dan yang jelek. Secara terus menerus manusia diberikan berbagai pilihan. Dalam melakukan pilihan ini manusia berpegang pada pengetahuan.

Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama, yaitu: pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, kemampuan berfikir menurut suatu kerangka berfikir tertentu. Kedua faktor diatas sangat berkaitan erat. Terkadang sebagian manusia begitu sulit untuk mengkomunikasikan informasi, pengetahuan dan segala yang ingin dikomunikasikannya. Hal ini salah satunya dikarenakan tidak terstrukturnya kerangka fikir. Kerangka fikir akan terstruktur ketika obyek dari apa yang ingin dikomunikasikan jelas. Begitupun ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut:

§ Adanya aktifitas berfikir, meneliti dan menganalisa.

§ Adanya metode tertentu dan sistematika tertentu.

§ Adanya obyek tertentu.

Berpikir, meneliti dan menganalisa adalah proses awal dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan berpikir, seseorang sebenarnya tengah menempuh satu langkah untuk medapatkan pengetahuan yang baru. Aktivitas berpikir akan membuahkan pengetahuan jika disertai dengan meneliti dan menganalisa secara kritis terhadap suatu obyek.

Obyek tertentu merupakan syarat mutlak dari suatu ilmu. Karena obyek inilah yang menentukan langkah-langkah lebih lanjut dalam pengupasan lapangan ilmu pengetahuan itu. Tanpa adanya obyek tertentu maka dapat dipastikan tidak akan adanya pembahasan yang mapan.

Metode merupakan hal yang sama pentingnya dalam lapangan ilmu pengetahuan. Tanpa adanya metode yang teratur dan tertentu, penyelidikan atau pembahasan kurang dapat dipertanggungjawabkan dari segi keilmuan. Dari segi metode inilah akan terlihat ilmiah tidaknya suatu penyelidikan atau pembahasan itu.

b. Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah

Permasalahan-permasalahan mengenai ilmu pengetahuan sangatlah luas. Seperti: aktivitas berpikir seperti apakah yang dapat menimbulkan ilmu pengetahuan? Apakah yang menjadi obyek dalam ilmu pengetahuan? Metode dan analisis yang bagaimana yang memenuhi standar dapat diterimanya conclusi seseorang sebagai ilmu pengetahuan? Apakah syarat dapat diterimanya seseorang sebagai ilmuwan? Dan sebagainya.

Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai apa yang menjadi obyek ilmu pengetahuan. Penulis akan lebih memfokuskan pembahasan tentang apa yang dimaksud dengan obyek material dan obyek formal ilmu pengetahuan.

II. PEMBAHASAN

a. Manusia dan Ilmu Pengetahuan

Benarkah bahwa semakin kita bertambah cerdas maka semakin pandai kita menemukan  kebenaran? Apakah manusia yang memiliki penalaran tinggi, lalu makin berbudi, sebab moral mereka dilandasi analisis yang hakiki, ataukah sebaliknya, makin cerdas maka makin pandai pula kita berdusta?.

Demikianlah beberapa pertanyaan yang diajukan Jujun S Suriasumantri dalam bukunya: Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Pertanyaan ini beliau ajukan dalam mukadimahnya mengenai ilmu dan moral.

Tidak bisa dipungkiri, memang, bahwa peradaban manusia sangat berhutang pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini, maka pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah.

Pengetahuan merupakan khazanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Sukar dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tidak ada, sebab, pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertanyaan tertentu yang diajukan. Oleh sebab itu, agar kita dapat memanfaatkan segenap pengetahuan kita secara maksimal, maka harus kita ketahui jawaban apa saja yang mungkin bisa diberikan oleh suatu pengetahuan tertentu. Atau dengan kata lain, perlu kita ketahui kepada pengetahuan yang mana suatu pertanyaan tertentu harus kita ajukan. Untuk itulah kita perlu mengetahui apa yang menjadi obyek material dan obyek formal suatu ilmu pengetahuan.

b. Obyek Material dan Obyek Formal Ilmu Pengetahuan

“No problem, no science”. Ungkapan Archi J Bahm ini seolah sederhana namun padat akan makna. Dari ungkapan ini kita bisa mengetahui bahwasanya ilmu pengetahuan muncul dari adanya permasalahan tertentu. Ilmu pengetahuan, menurut Bahm, diperoleh dari pemecahan suatu masalah keilmuan. Tidak ada masalah, berarti tidak ada solusi. Tidak ada solusi berarti tidak memperoleh metode yang tepat dalam memecahkan masalah. Ada metode berarti ada sistematika ilmiahPermasalahan merupakan obyek dari ilmu pengetahuan. Permasalahan apa yang coba dipecahkan atau yang menjadi pokok bahasan, itulah yang disebut obyek. Dalam arti lain, obyek dimaknai sebagai sesuatu yang merupakan bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan

Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai obyek. Obyek dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: Obyek material dan obyek formal.

Yang disebut obyek material adalah sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran atau penelitian ilmu Sedangkan menurut Surajiyo dkk. obyek material dimaknai dengan suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan. Obyek material juga berarti hal yang diselidiki, dipandang atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Obyek material mencakup apa saja, baik yang konkret maupun yang abstrak, yang materil maupun yang non-materil. Bisa pula berupa hal-hal, masalah-masalah, ide-ide, konsep-konsep dan sebagainya. Misal: objek material dari sosiologi adalah manusia. Contoh lainnya, lapangan dalam logika adalah asas-asas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. Maka, berpikir merupakan obyek material logika.

Istilah obyek material sering juga disebut pokok persoalan (subject matter). Pokok persoalan ini dibedakan atas dua arti, yaitu:

§ Pokok persoalan ini dapat dimaksudkan sebagai bidang khusus dari penyelidikan faktual. Misalnya: penyelidikan tentang atom termasuk bidang fisika; penyelidikan tentang chlorophyl termasuk penelitian bidang botani atau bio-kimia dan sebagainya.

§ Dimaksudkan sebagai suatu kumpulan pertanyaan pokok yang saling berhubungan. Misalnya: anatomi dan fisiologi keduanya berkaitan dengan struktur tubuh. Anatomi mempelajari strukturnya sedangkan fisiologi mempelajari fungsinya. Kedua ilmu tersebut dapat dikatakan memiliki pokok persoalan yang sama, namun juga dikatakan berbeda. Perbedaaan ini dapat diketahui apabila dikaitkan dengan corak-corak pertanyaan yang diajukan dan aspek-aspek yang diselidiki dari tubuh tersebut. Anatomi mempelajari tubuh dalam aspeknya yang statis, sedangkan fisiologi dalam aspeknya yang dinamis.

Obyek formal adalah pendekatan-pendekatan secara cermat dan bertahap menurut segi-segi yang dimiliki obyek materi dan menurut kemampuan seseorang. Obyek formal diartikan juga sebagai sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut pandang darimana obyek material itu disorot. Obyek formal suatu ilmu tidak hanya memberikan keutuhan ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang lain. Suatu obyek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang sehingga menghasilkan ilmu yang berbeda-beda. Oleh karena itu, akan tergambar lingkup suatu pengetahuan mengenai sesuatu hal menurut segi tertentu. Dengan kata lain, “tujuan pengetahuan sudah ditentukan.

Misalnya, obyek materialnya adalah “manusia”, kemudian, manusia ini ditinjau dari sudut pandang yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia, diantaranya: psikologi, antropologi, sosiologi dan sebagainya.

c. Implikasi Obyek Material dan Obyek Formal

Persoalan-persoalan umum (implikasi dari obyek material dan obyek formal) yang ditemukan dalam bidang ilmu khusus itu antara lain sebagai berikut:

§ Sejauh mana batas-batas atau ruang lingkup yang menjadi wewenang masing-masing ilmu khusus itu, dari mana ilomu khusus itu dimulai dan sampai mana harus berhenti.

§ Dimanakah sesungguhnya tempat-tempat ilmu khusus dalam realitas yang melingkupinya.

§ Metode-metode yang dipakai ilmu tersebut berlakunya sampai dimana.

§ Apakah persoalan kausalitas (hubungan sebab-akibat yang berlaku dalam ilmu ke-alam-an juga berlaku juga bagi ilmu-ilmu sosial maupun humaniora.

III. KESIMPULAN

Dewasa ini, corak dan ragam ilmu pengetahuan sangatlah banyak. Corak dan ragam yang berbeda-beda ini timbul karena adanya perbedaan cara pandang dalam memahami obyek ilmu pengetahuan.

Obyek ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang merupakan bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan. Inti pembahasan atau pokok persoalan dan sasaran material dalam ilmu pengetahuan sering disebut sebagai obyek material ilmu pengetahuan. Sedangkan cara pandang atau pendekatan-pendekatan terhadap obyek material ilmu pengetahuan biasa disebut sebagai obyek formal.

Dari berbeda-bedanya obyek ilmu pengetahuan ini, timbullah ragam dan corak ilmu pengetahuan. Dengan mengetahui obyek material dan obyek formal ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui bidang keilmuan apakah yang dimungkinkan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan yang kita miliki.

IV. DAFTAR PUSTAKA

Fauzi, Ahmad. 1999. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Bahm, Archi J. 1980. What is Science?. New Mexico: Al-buquerque.

Surajiyo, dkk. 2006. Dasar-dasar Logika. Jakarta: Bumi Aksara.

Suhartono, Suparlan. 2004. Dasar-dasar Filsafat. Yogyakarta: Ar-Ruzz.

Suriasomantri, Jujun S. 1996. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Mustansyir, R dan Munir M. 2003. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tim Dosen Filsafat UGM. 2003. Filsafat Ilmu: Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Liberty.

http://cahyaulumuddin.multiply.com/journal/item/19 – _ftnref1Dra. H. Ahmad Fauzi. Psikologi Umum. (Bandung: Pustaka Setia). Hal: 10.

http://cahyaulumuddin.multiply.com/journal/item/19 – _ftnref2Archi J Bahm. What is Science?. 1980 (New Mexico: Al-buquerque). Hal: 1

http://cahyaulumuddin.multiply.com/journal/item/19 – _ftnref3Drs. Surajiyo,. Drs. Sugeng Astanto, M.Si,. Dra. Sri Andiani. Dasar-dasar Logika. 2006. (Jakarta: Bumi Aksara). Hal: 11.

http://cahyaulumuddin.multiply.com/journal/item/19 – _ftnref4Suparlan Suhartono, Ph.D. Dasar-dasar Filsafat. 2004. (Yogyakarta: Ar-Ruzz). Hal: 97.

OBYEK MATERIAL DAN OBYEK FORMAL ILMU PENGETAHUAN

Nama : Hendri Lisdiantoro

NIM : 206 400 216

Mata Kuliah : Etika Filsafat dan Komunikasi

Jurusan : HUMAS

Fakultas : Dakwah dan Komunikasi

Universitas Sunan Gunung Djati Bandung

2008/2009

Mengenang Rumi

semaPria yang lahir pada 30 September 1273 di Balkh-Afghanistan dan wafat pada 17 Desember 1273 di Konya-Turki ini meninggalkan warisan pemikiran spiritual yang banyak menginspirasi umat Islam. Tari Sufi (Sema) adalah salah satu inspirasi yang ditinggalkan Rumi yang merupakan paduan warna dari tradisi, sejarah, kepercayaan, dan budaya Turki.

Rumi, menurut Profesor Zaki Saritoprak, pakar dan pemerhati pemikiran Jalaluddin Rumi dari Monash University, Australia,berpandangan bahwa kondisi dasar semua yang ada di dunia ini adalah berputar. Tidak ada satu benda dan makhluk yang tidak berputar. “Keadaan ini dikarenakan perputaran elektron, proton, dan neutron dalam atom yang merupakan partikel terkecil penyusun semua benda atau makhluk, jelasnya.
Baca entri selengkapnya »